Thursday, 02 February 2012 12:42
Allah mengkaruniai manusia dengan banyak naluri, baik naluri itu berupa kebaikan maupun kejahatan. Al Quran membahasakan, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Asy-Syams: 8)
Salah satu naluri itu adalah naluri (keinginan) untuk berkuasa. Naluri ini memiliki sisi baik dan sisi buruk. Kondisinya tergantung pada niat dari pemilik naluri tersebut. Jika niatnya memangku jabatan dan kekuasaan adalah dalam rangka menegakkan agama Allah, maka ia akan baik-baik saja. Kekuasaan yang digenggamnya akan memberikan rahmat bagi dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Berada di dekatnya seperti diayomi. Jauh darinya seraya selalu diperhatikan. Semua terasa nyaman dan tenang.
Namun jika keinginannya berkuasa tadi adalah dalam rangka menuruti gejolak nafsu, apalagi dalam rangka mendapatkan kemudahan-kemudahan duniawi maka ia akan membuat celaka. Kecelakaan itu tidak saja untuk orang lain tapi juga untuk dirinya sendiri. Dekat dengannya seperti dalam neraka, kecuali oleh para penjilat dan pengadu domba. Jauh darinya memunculkan kecurigaan. Intinya tidak ada enaknya.
Dari dua model pemilikan kekuasaan tersebut, dari dulu hingga kini yang sering muncul ternyata bukan yang baik. Justru yang buruk. Pada awal memegang tampuk kekuasaan ia teguh dalam kejujuran dan keadilan. Namun di tengah perjalanan, mayoritas tergoda untuk berbuat dzolim. Ada kaidah umum yang berlaku, “mumpung masih berkuasa. Kapan lagi bisa mengeruk keuntungan sebesar-besarnya”.
Membuat lupa diri
Kekuasaan sering membuat orang lupa diri. Saat masih belum memegang tampuk kekuasaan ia bisa bersikap bijak dan adil. Ia juga bisa teguh menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Namun setelah kekuasaan dalam genggaman maka sifat baik tersebut pelan tapi pasti menghilang. Ditelan oleh budaya pragmatis.
Orang-orang macam begini jika disodori suap sedikit ia akan berkata, “haram!” jawabnya tegas dan jelas. Namun ketika suap yang disodorkan agak banyak maka hatinya mulai bimbang dan ragu. Ia berdiri diantara dua sikap, antara mau menerima atau menolak. Tergantung mana yang lebih kuat tarikannya. Namun jika suap yang disodorkan berjumlah besar, maka ia akan mencari justifikasi (dalil pembenar) atas tindak suapnya tadi.
Jika sifat lupa dirinya sudah mencapai stadium lanjut maka tidak jarang pemilik kekuasaan menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain. Efeknya ia merasa sah-sah saja menekan, mendikte, menteror terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Tidak sedikit pula yang menganiaya pada orang-orang yang berpendapat berbeda. Nasehat dianggap sebagai kritik. Kritik dicap sebagai tindakan subversib, dll.
Muncul penyakit post power syndrome.
Karena saking terobsesinya terhadap kekuasan maka muncullah penyakit post power syndrome. Ia masih merasa berkuasa, padahal kekuasaannya sudah lepas. Sikap angkuh dan sombongnya tidak hilang sekalipun sudah tidak memiliki daya. Budaya paternalistic masih ia pelihara. inilah pemandangan yang selalu bisa kita lihat baik melalui kacamata sejarah atau menyaksikan langsung perilaku para penguasa beserta anak buahnya.
Dalam diri manusia memang berkembang perasaan cinta kekuasaan sebagai perwujudan dari naluri mempertahankan diri. Sifat itu ada karena ingin dianggap eksis dalam kehidupannya. Maka wajar kalau kita lihat ada bekas menteri mau mencalonkan diri menjadi gubernur. Ada yang tidak puas dengan berkuasa satu periode, kemudian mencalonkan lagi untuk periode berikutnya. Begitu terus, terus, dan terus. Bahkan kalau bisa menjabat yang diatasnya lagi.
Perlu bekal taqwa
Rasulullah apabila mengangkat seorang pemimpin untuk suatu urusan tertentu selalu mewasiatkan takwa. Hal itu karena memang kekuasaan cenderung membawa pemegangnya pada tindakan kedzoliman dan kesewenang-wenangan. Dengan bekal taqwa inilah gejolak dan hasrat untuk menyalahgunakan kekuasaan, semena-mena, ingin selalu dilayani, suka korupsi, memakan harta rakyat bisa dibendung. Taqwa mengantarkan pemiliknya memiliki rasa takut kepada Allah sebagai dzat yang Maha Melihat. Sehingga muncullah sikap muroqobatullah (selalu merasa diawasi Allah). Sikap taqwa juga mengantarkan pemiliknya takut terhadap balasan yang akan ia terima di akhirat kelak.
Contohlah Umar bin Abdul Aziz
Khalifah Umar bin Abdul Aziz, suatu ketika melakukan pengontrolan di Baitul Maal. Tiba-tiba ia menutup hidungnya karena mencium bau minyak kesturi yang menyebar di ruangan tersebut. Melihat sikap khalifah yang seperti itu, petugas baitul maal penasaran dan bertanya kepada khalifah. “Wahai khalifah, apakah gerangan yang membuat engkau menutup hidung?” Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata, “Harta di baitul maal ini adalah milik rakyatku. Dan aku tidak ingin memakan harta rakyatku, walau hanya dengan mencium wangi minyak ini.” Subhanallah!
Begitulah salah satu sikap khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam memegang amanah kekuasaannya. Sudah barang tentu menjadi pekerjaan yang sangat sulit untuk mendapatkan model pemimpin seperti itu saat sekarang ini. Yang ada justru cenderung menjadikan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri dan memeras orang lain, termasuk rakyatnya sendiri. Alasannya klasik, ‘buat balik modal kampanye’.
Begitulah kekuasaan. Semakin direguk semakin membuat haus. Pernah mencicipi terasa kecanduan dan ingin mengulang lagi. Hanya hati yang dipenuhi sifat taqwa sajalah yang takut pada kepemilikan kekuasaan. Mengapa? Karena ia sadar semua akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Allahu a’lam.
EDISI MEI 2012

Harga di pulau Jawa Rp 22.500,-. Untuk informasi dan Pemesanan hubungi 085855651650