Monday, 20 February 2012 13:53
Imam Pujiono
Posted in
Artikel -
Khazanah

Tradisi ceramah berkembang melalui proses pewarisan dari satu generasi ke generasi. Proses itu berlangsung mulai abad ke-10 hingga abad ke-12. Seni berceramah mengalami puncak perkembangan dalam kajian ilmu-ilmu humaniora pada abad ke-11 yang digerakkan Ibn Aqil. Sedangkan pada abad ke-12 dimotori oleh Ibn al-Jauzi. Pada masa itu, para penceramah mendapatkan jabatan yang tinggi di istana-istana para khalifah.
Pada mulanya, seni berceramah ini memang memiliki tujuan untuk menyebarkan ajaran agama dan untuk menghambat pidato sekuler yang banyak muncul di istana-istana raja. Selain, itu ceramah juga banyak digunakan untuk melontarkan kritik atas kehidupan mewah para raja.
Tak hanya ulama yang memiliki peran dalam mengembangkan seni berceramah. Namun, sejumlah institusi pendidikan pun ikut berperan. Di antaranya, Madrasah Nizamiyah, yang ada di Baghdad, Irak. Madrasah ini berkembang pada abad ke-11. Saat itu, banyak cendekiawan yang memiliki kemampuan berceramah dari wilayah di luar Irak bertandang ke Baghdad. Mereka tinggal di sana, baik dalam jangka waktu yang pendek atau panjang. Mereka diberi kehormatan untuk mengajarkan ilmunya di Madrasah Nizamiyah.
Kehormatan tersebut diberikan langsung oleh Nizham al-Muluk, yang merupakan pendiri madrasah tersebut. Keturunan Nizham juga melakukan langkah yang sama. Salah seorang yang berkecimpung di Madrasah Nizamiyah adalah Abu Husyn al-Abbadi, yang berasal dari Marw. Al-Abbadi bahkan pernah menduduki jabatan akademis di Nizamiyah, yaitu sebagai guru besar dalam mata kuliah seni berceramah. Sebuah catatan mengungkapkan, pada November hingga Desember 1092, al-Abbadi berkunjung ke Baghdad.
Kemudian, al-Abbadi melanjutkan perjalananya menuju Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Pada tahun berikutnya, ia kembali lagi ke Baghdad dan diangkat menjadi pengajar tamu untuk mata kuliah seni berceramah. Hingga, ia pun menjadi guru besar di sana. Di sana, al-Abbadi juga bertemu dengan ilmuwan besar al-Ghazali, yang menjadi kepala guru besar di Nizamiyah. Kemampuan al-Abbadi berceramah juga melahirkan rasa takjub dari seorang pengembara dari Spanyol, Ibnu Jubair.
Dalam karyanya yang berjudul Perjalanan, Ibnu Jubair, mengisahkan banyaknya orang yang berkerumun untuk mendengarkan ceramah al-Abbadi. Selain Nizamiyah, ada pula Tajiyah, di mana madrasah ini juga memiliki penceramah ternama, yaitu Abu al-Futuh al-Ghazali.