Friday, 21 May 2010 23:44
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-baqarah : 153)
Mari kita membuka ulang definisi sabar sebagaimana Alloh dan Rasulnya mengajarkan kepada kita. Kesabaran berikut inilah yang akan memberikan kontribusi solutif dan produktif dalam hidup kita.
1. Sabar itu mengalihkan pandangan ke akhirat.
Dalam hidup ini, pandangan kita hanya memiliki dua arah. Yaitu arah dunia dan arah akhirat. Suatu saat kita dominan menatap dunia. Suatu saat sebaliknya. Ketika kita memandang ke arah dunia, kemudian menemukan kepahitan disana, maka kita punya kesempatan mengalihkan pandangan ke arah akhirat. Berusaha membayangkan betapa Alloh menjanjikan limpahan karunia atas kepahitan yang menimpa kita di dunia.
Definisi Sabar inilah yang terjadi kepada Ibunda Summayah ketika disiksa kafir Quraisy. Saat ia diikat terlentang tanpa alas di atas pasir panas kota mekkah. Hingga beliau dibunuh secara hina, ditusuk dari kemaluannya. Para kafir Quraisy itu boleh berseringai merasa berhasil menyakiti syahidah pertama itu. Tapi siapalah yang tahu keadaan hati Ibunda Summayah waktu itu. Hanya dirinya dan kekasihnya, Alloh ta’ala yang tahu.
Sangat mungkin, pandangan dan pikirannya tertuju pada janji Surga. Saat dibunuh, rasa sakit itu tak terasakan lagi sebab ia lebih terpesona pada sambutan para malaikat yang berkata, “salam atas kalian karena kesabaran kalian”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (QS. Ar-Ra’d : 24)
Kesabaran seperti inilah yang paling dicintai Alloh. Kesabaran inilah yang dimiliki oleh para Rasul, para sahabat nabi dan orang-orang yang dekat dengan Alloh. Sebagaimana firman-Nya : Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
Orang-orang yang tak menyeriusi akhirat, akan sangat susah merasakan nikmatnya bersabar. Ia tak punya pilihan, kemana dan kepada siapa harapannya akan disandarkan. Yang dia punya hanya pandangan dunia bahwa urusannya harus selesai. Selama menunggu selesainya urusan itulah dia berada dalam keterpaksaan. Padahal kalau mau menatap ke akhirat, mau merubah tujuannya menjadi berharap ridha Alloh, pasti dia akan menikmati kesabarannya.
2. Sabar itu menahan diri
Salah satu definisi sabar, adalah menahan diri dalam merespon sesuatu. Saat anda merasa di dzalimi oleh seseorang, Anda mampu mengambil jeda menyusun “akal sehat” dan menata respon apa yang terbaik yang akan anda lakukan. Misalkan di musim hujan begini, bagi kita para pengendara motor sangat besar potensi “disakiti”. Biasanya kita didahului motor yang melaju kencang dari belakang, dan airnya terciprat membasahi skujur tubuh kita. Si orang itu cuek dan tak sedikitpun meminta maaf. Pilihan ada pada kita, mengejar dan mengatai dia. Atau memilih menunda respon.
Kecerdesan menahan diri untuk memberi respon ini akan sangat menguntungkan kita dalam menjalani hidup. Setiap tindakan yang kita lakukan dipastikan sangat berkualitas karena telah melalui proses pertimbangan yang matang. Kesabaran dengan menahan diri akan menghasilkan solusi.
Kesabaran menunda respon inilah yang dilakukan para rasul Alloh ketika didera siksaan oleh ummatnya , “Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Alloh padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Alloh saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri” (Ibrahim: 10)
3. Sabar itu bergerak
Perkataan “kesabaran saya sudah habis” muncul karena memahami sabar adalah bersikap pasif. Sabar dianggap nrimo. Padahal sabar itu aktif. Sabar itu bergerak. Sabar itu berani menerobos tantangan. Sabar itu teguh menjalani proses. Sabar itu berani melawan demi keadilan. Sabar bukan diam ketika didzalimi. Sabar seperti inilah yang dicontohkan oleh Rosululloh dan para sahabatnya, “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Alloh, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Alloh menyukai orang-orang yang sabar.(QS. Ali Imran:146)
Lihatlah, Rosululloh berperang, beliau bergerak melawan kedzaliman. Dan justru dari situlah Alloh menggolongkan mereka kedalam orang-orang yang sabar. Yaitu ketika mereka memberanikan diri menghadapi kesulitan kemudian tetap tegar didalamnya.
Maka dalam kehidupan keseharian kita, tidak ada alasan untuk tidak bergerak dengan dalih sabar menerima keadaan. Setiap manusia diberikan kewenangan menentukan jalan hidupnya. Kemudahan itu memang kadang datang sendiri. Tapi juga tak sedikit, kemudahan-kemudahan yang Alloh sediakan dengan cara harus dicapai melalui upaya, perjuangan, serta tetasan keringat dan air mata.
4. Sabar itu khusyuk
Kenikmatan bersabar itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang khusyuk. Sebagaimana Firman Alloh, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” (QS. Al-Baqarah : 45)
Pertanyaannya, seperti apakah khusyuk itu? Menurut penulis, salah satu tanda sholat kita khusyuk adalah ketika kita mampu menyelaraskan jasad dan pikiran dalam satu tempat. Saat kita sholat, jasad kita kondisinya menghadap kepada Alloh. Maka untuk khusyuk, pikiranpun juga harus mengikuti aktivitas jasad, yaitu merasa menghadap kepada Alloh. Kita tidak akan khusyuk, kalau jasad dan pikiran tidak menyatu dalam satu kondisi. Sholat kita tidak khusyuk, ketika jasad sedang menghadap Alloh tapi pikiran sedang tawar menawar HP baru di pusat pertokoan elektronik.
Demikian pula dalam aktivitas lain selain sholat, kita akan bisa bersabar ketika bisa khusyuk, yaitu mampu menyatukan jasad dan pikiran dalam suatu keadaan. Kebanyakan kita tidak bersabar, karena kita disibukkan memikirkan hal-hal di luar aktivitas yang kita lakukan saat itu.
Katakanlah kita sedang akan menghadiri undangan seorang teman. Waktu sudah sangat mepet. Ternyata istri kita masih sibuk berdandan dan melakukan urusan yang menurut kita tidak penting dan mengakibatkan terjadi keterlambatan. Dijamin kita tidak akan sabar, kalau pikiran dan jasad kita terpisah dalam dua tempat. Jasad kita masih di rumah, sedang pikiran kita sudah berada di acara teman kita. Pikiran kita sibuk membayangkan kekecewaan teman kita, sibuk membayangkan bagaimana harus minta maaf dan lain sebagainya. Akibatnya kita akan tertekan kemudian memaksa dan memarahi istri kita.
Berbeda kalau kita mau menarik kembali pikiran kita yang ada di acara teman kita itu. Dan sejenak menyatukan jasad dan fikiran di rumah. Menikmati proses menunggu istri yang sibuk berdandan. Kita mungkin akan menyalakan lagu kesayangan kita dan menikmatinya. Kita mungkin akan ikut memberi saran baju apa yang pas dipakai istri.
Menyatukan fisik dan pikiran dalam satu tempat, membuat kita lebih bisa bersabar.
5. Sabar itu menikmati proses
Ada saatnya kita perlu menutup bayangan-bayangan hidup yang ingin kita raih dan memilih secara sadar untuk menikmati proses yang kita jalani. Hiduplah untuk hari ini dan nikmatilah proses-proses yang Anda jalani. Sekali lagi “nikmatilah”. Menikmati proses akan membuat kita mencintai proses yang kita jalani. Sedang mencintai proses tersebut, akan membuat kita berusaha mempersembahkan hasil yang terbaik.
Kadang ketakutan terhadap hasil akhir membuat kita tidak sabar menjalani hidup. Kita menjadi tergesa-gesa, bingung mau memulai darimana, merasa terbebani, dan akhirnya tidak sabar.
Maka selesaikanlah setiap proses tahap demi tahap tanpa terbebani oleh hasil akhir. Lakukanlah proses itu dengan sungguh-sungguh dan perasaan menikmati sebagaimana Alloh firmankan dalam surat Al-Insyirah ayat ke 7, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS. Al-Insyirah : 7)
Bagaimana dengan hasil akhirnya. Adapun hasil akhir, di akhir Surat Al-Insyirah tersebut, kita diberi tahu kemana seharusnya menyandarkan hasil akhir. “dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah : 8)
Walau tidak mudah, kita pasti punya kemampuan untuk bersabar seperti yang telah dijelaskan di atas. Dengan sabar itulah kita akan menghadapi kehidupan ini.
Wallohu A’lam Bisshowab
EDISI MEI 2012

Harga di pulau Jawa Rp 22.500,-. Untuk informasi dan Pemesanan hubungi 085855651650